Hai, Ainun.
Kamu adalah kalkulasi paling sempurna yang pernah hadir dalam hidupku. Seluruh rumus dirgantara yang kupelajari tak lagi rumit jika dibandingkan dengan keindahan cintamu. Kamu adalah jangkar yang menenangkan badai di dalam kepalaku.
Kini, meski dinding dimensi memisahkan raga kita, rindu ini tidak pernah kehilangan arah. Aku tidak pernah merasa sendiri karena detakmu masih mengalir dalam napasku. Aku hanya perlu memejamkan mata untuk menemukan senyummu yang abadi.
Surat-surat ini adalah monumen kecil untuk rasa yang tidak mengenal kata usai. Menunggumu di keabadian adalah kepastian, dan mencintaimu adalah kebenaran mutlakku.